Anak Didik

Diberdayakan oleh Blogger.

Enkulturasi

“Pengalaman belajar yang membedakan manusia dengan makhluk-mahluk lainnya, lewat mana manusia sejak awal dan juga pada masa hidup selanjutnya memperoleh kompetensi dalam kebudayaannya”. -Herkovits

"Manusia harus bisa merasa bukan merasa bisa, bila merasa bisa maka orang akan sombong terhadap orang lain". -Susilo Pradoko

Edward B.Tylor (1871) mengungkapkan arti kebudayaan sebagai berikut: “Kebudayaan adalah keseluruhan yang merangkum pengetahuan, kepercayaan, kesenian, dan adat kebiasaan yang diperlukan manusia sebagai anggota masyarakat”.

"Sejak awal masa hidupnya seseorang anak perlu mendapatkan enkulturasi secara bertahap tentang norma-norma, peraturan hidup serta hal-hal yang harus dilakukan sebagai mahluk sosial dalam masyarakat".

"Seseorang belajar terus-menerus melalui kebudayaannya tentang adat-istiadat, sistem norma dan nilai, peraturan hidup serta cara menyikapi serta berfikir guna hidup dan menanggapi hidup bersama masyarakatnya".

Kamis, 12 Oktober 2017

Berbagai Jenis Penelitian Kualitatif

Penelitian Kualitatif dan Inspirasi Permasalahan Penelitian *)
Dr. A. M. Susilo Pradoko, M.Si.

Sejarah dan Gambaran Definisi
            Penelitian kualitatif memiliki tradisi yang cukup lama khususnya dalam penelitian antropologi, tokoh-tokoh peneliti model ini:  Boas, Mead, Benedict, Bateson, Evan-Pritcard, Radclif- Brown, dan Malinowski dimana meneliti di setting yang asing untuk studi adat-istiadat, kebiasaan masyarakat lain dan  Budaya. Pada 1920 an metode ini juga dikembangkan oleh kelompok  “Chicago School” dengan penelitian life histori .  Lima phase perkembangan keilmuwan kualitatif, yaitu: Tradisional (1900 – 1950); Modern (1950 – 1970), Aliran Blurred (1970-1986); Krisis Representasi (1986-1990) dan Postmodern tahun 1990 hingga sekarang (Denzin dan Yvonna S., 1994: 1-2).
            Penelitian kualitatif merupakan multi metode yang fokus, melibatkan interpretasi, pendekatan alamiah pada materi subjek. Ini berarti bahwa penelitian kualitatif studi segala sesuatu dalam setting alamiah mereka, berusaha mengerti dan menginterpretasi, fenomena dalam pengertian sesuai arti masyarakatnya. Penelitian kualitatif melibatkan studi menggunakan dan mengkoleksi variasi materi-materi empiris, studi kasus, pengalaman personal, introspektif, life histori, interview, observasi, sejarah, interaksional, dan teks visual yang mengambarkan rutinitas dan problem waktu dan arti hidup individual (Denzin dan Yvonna S., 1994: 2).
            Penelitian kualitatif sebagai seorang yang professional mampu melakukan dan mengambil data yang pada prinsipnya sebagai peneliti tunggal dalam segala aspeknya, walaupun di lapangan dapat dibantu oleh tim atau kelompoknya. Denzin dan Yvonna menyebut sebagai A bricoleur (a kind of professional do it yourself person) (Denzin dan Yvonna S., 1994:2). Lexy Moleong menyebut manusia sebagai instrumen, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama (Moleong, 1994: 4). Namun sebaiknya jangan lalu disimpulkan manusia sebagai instrumen, tetapi lebih baik dinyatakan bahwa  manusia  sebagai pemikir utama pemecahan masalah, memilih metode yang tepat untuk permasalahannya, mengumpulkan data, mengolah dan menyimpulkan selaras dengan setting penelitiannya. Instrumen dalam penelitian kualitatif dapat berubah sesuai dengan setting penelitian, bukan merupakan alat pengukuran yang baku yang diprediksi sebelumnya seperti halnya dalam paradigm positivistic.
            Berbagai paradigma digunakan dalam strategi dan metode penelitian kualitatif, dari konstruktivisme hingga kajian budaya, feminism, marxisme dan model-model studi etnik. Penelitian kualitatif digunakan dari berbagai disiplin tidak hanya satu disiplin keilmuwan. Penelitian kualitatif menggunakan semiotic, narrative, isi (content), wacana (discourse), arsip, analisa phonemic, bahkan statistic. Selain itu menggunakan pendekatan, metode dan teknik teknik etnometodologi, phenomenology, hermeneutic, feminism, rhizomatik, dekonstruksionisme, etnografi, interview, psikoanalisa, kajian budaya, survey, observasi partisipasi dan yang lain (Denzin dan Yvonne, 1994:3). Kelompok Chicago School menggunakan kisah hidup dan pendekatan etnografi untuk mengembangkan metode interpretasi yang berpusat pada sejarah hidup (life history) yang diceritakan; metode ini sering disebut sebagai metode life history.  Selain model-model penelitian yang dapat dikategorikan sebagai penelitian kualitatif seperti yang telah disebutkan masih dapat ditambahkan di tulisan ini yaitu penelitian dengan model paradigm strukturalisme, poststrukturalisme, strukturasi, dekonstruksi dan penelitian-penelitian semiotic dalam masyarakat hiper realis, Yasraf Amir Piliang  (2010: 46) menyebut sebagai hipersemiotika, semiotika kedustaan. Paradigma penelitian ini juga dikembangkan menjadi penelitian action research (penelitian) tindakan dalam kelompok social tertentu (Danim, 2002:43; Penelitian Tindakan Kelas, Dit.PPTK dan KPT – Dikti, 2005; Madya, 1994: 1).
            Penelitian kualitatif menekankan realitas alami konstruksi social, hubungan kedekatan antar peneliti dan yang diteliti dan suasana situasional yang menajamkan penelitian. Pencarian jawaban pertanyaan penelitian yang menekankan bagaimana pengalaman social dibentuk dan memberikan arti (Denzin dan Yvonne, 1994:4).

Perbedaan antara Metode Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif

            Perbedaan antara paradigma positivisme yang kemudian menghasikan model penelitian kualitatif dan paradigm postpositivisme yang kemudian menghasilkan berbagai jenis yang termasuk dalam kategori penelitian kualitatif seperti yang telah diungkap terdahulu.   Paparan perbedaan ini akan menggabungkan sebagaian gagasan Lexy J. Moleong (1994: 16 ) dengan gagasan Sudarwan Danim  (2002:34).

    ( Sumber: Lexy J.Moleong, 194:16.)







( Sumber: Danim, 2002: 34)

Definisi Ringkas Motode-metode Jenis Kualitatif dan Contoh Kasus Penelitian
                  
1. Penggunaan Aliran Strukturalisme
            Strukturalisme adalah salah satu paradigm pemikiran yang digunakan dalam penelitian masyarakat dan ilmu social-humniora. Penelitian mnegupayakan mencari struktur social dan kait-mengait struktur masyarakat dengan peran serta fungsinya. Dalam penelitian musik misalnya: Model Struktur Aransemen Musik Kyai Kanjeng, dan yang sejenis. Penelitian ini berupaya mengungkap struktur (permasalahan apa saja ) dalam masyarakat. Tidak terbatas  pada kelompok masyarakat dapat pula melihat struktur bektuk teks, syair, tulisan dan sebagainya.
2. Aliran Poststrukturalisme  
            Poststrukturalisme adalah aliran pemikiran yang menentang adanya struktur yang tetap dan berlaku secara universal. Dalam bahasa misalnya tata bahasa ada yang berlaku keseluruhan yang disebut langue namun juga ada parol-parol, atau bahasa terapan pada masyarakat tertentu atau mudahnya disebut sebagai dialek suatu masyarakat tertentu, bahasa Indonesia namun dengan dialek Banyumas misalnya.
            Dalam penelitian musik misalnya kita mengungkap aliran-aliran musik kontemporer, di mana kelompok muisk itu menggunakan format-format, alat musik, dan harmoni yang berbeda dari harmoni standar yang berlaku secara universal.
3. Strukturasi
            Paradigma tentang perubahan suatu masyarakat atau struktur social dikarenakan pengaruh adanya agency, seseorang atau kelompok yang memiliki gagasan dan terus menerus gagasan itu diterjemahkan dan mampu diterima dalam masyarakat untuk merubah struktur yang sudah tetap. Dalam musik misalnya penelitian peran Sunan Kalijaga dalam syiar Islam melalui kebudayaan material tradisi agama Hindu dan Budha.
4. Aliran Dekonstruksi
            Paradigma pemikiran dalam filsafat yang melihat teks secara lebih tajam lagi dan memberikan makna baru dan kritis atas penafsiran teks tersebut. Teks dipahami dan disusun ulang dengan sudut pandang pemikiran yang berbeda, paradigm ini dicetuskan oleh Jacques Derrida. Dalam musik misalnyamenganalisis teks syair lagu dengan sudut pandang yang lain sehingga isi syair menjadi bermakna ganda/banyak/polisemi, berbeda dengan makna yang diserap oleh kebanyakan orang.

5. Etnografi
            Penelitian dengan cara melakukan terjun langsung di masyarakat yang diteliti. Etnis berarti suku, kelompok masyarakat tertentu dan grafi berarti tulisan, maka etnografi berarti tulisan tentang suatu masyarakat etnik tertentu.  Cara melakukan penelitian dengan observasi partisipasi, mengamati langsung masyarakat pemilik kebudayaan dengan melakukan wawancara, menghubungi informan-informan, membawa buku catatan melakukan teknik field work, kerja di lapangan dan dengan segera menuliskan setiap kejadian, data yang diperoleh sesuai dengan fokus penelitiannya. Model penelitiannya sirkular, melingkar  selalu cek dan mengecek ulang atas data dan pengamataannya sehingga memperoleh interpretasi yang tepat sesuai pandangan masyarakat yang diteliti. Bidang ilmu etnomusikologi banyak menggunakan penelitian jenis ini. Penelitian model ini berasal dari tradisi keilmuwan Antropologi.
6. Action Research
            Penelitian tindakan di sekelompok masyarakat/sekelompok murid (class room) untuk memberikan solusi atas permasalahan  yang dihadapi dengan cara menerapkan solusi dan mengamati hasilnya serta merefleksikan hasil tindakan dan terus menerus mengembangkan menjadi putaran siklus, biasanya putaran siklus dilakukan dua atau tiga kali dalam suatu penelitian.
7. Fenomenologi
            Penelitian ini bermula dari fenomena yang ingin diteliti, dengan cara mempertanyakan langsung kepada orang-orang yang mengalami peristiwa. Fenomenologi adalah ilmu yang mempelajari proses kesadaran manusia untuk melihat gejala/fenomena yang tampak di depan mata. Fenomena beserta kejadiannya tidak hanya dilihat dari kulit luarnya saja, akan tetapi lebih mendalam adalah melihat apa yang ada di “balik” yang tampak tersebut (Sutiyono, 2011:25).
8.Etnometodologi
            Penelitian model ini, penelitian melakukan kerja lapangan untuk mengetahui cara hidup kelompok masyarakat yang diteliti. Penelitian ini merupakan upaya untuk mengungkapkan metode yang dipakai kelompok  masyarakat etnik dalam menanggapi hidup. Dalam bidang musik misalnya penelitian yang akan mengungkapkan metode pembelajaran musik yang dilakukan oleh kelompok musik tradisi.

9. Life History
            Penelitian tentang riwayat hidup seseorang yang terkenal, dia memiliki potensi keilmuwan terhadap bidang yang digeluti, ditangani. Dalam musik misalnya life histori dari pakar musik kroncong yang membuat lagu Bengawan Solo, Gesang. Riwayat hidup pesinden dan penyanyi pop lagu-lagu jawa, Waljinah. Penelitian dengan melakukan in depth interview, wawancara mendalam tentang fokus permasalahan yang diteliti. Penelitian menghasilkan deskripsi yang mendalam tentang kehidupan seniman tersebut, fokus penelitian bisa mengenai masalah teknik bernyanyi, teknik membuat lagu atau hal-hal lain. In depth-nya penelitian ini bisa dibantu dengan mencari turning point,  perubahan peralihan, motivasi mendalam mengapa akhirnya seniman tersebut memilih jalan sebagai seniman.

10. Analisis Wacana
            Penelitian analisis wacana atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Discourse Analysis, atau disebut juga dengan lebih tajam analisisnya dengan menyebutkan sebagai Critical Discourse Analysis (CDA). Penelitian ini mengungkapkan makna teks, mengungkapkan hal-hal yang terselubung dan memiliki tendensi tertentu dari teks yang ditulis baik melalui buku-buku, karya sastra maupun media. Tokohnya antara lain Fairclough, Michael Halliday dan Michael Foucault. Michael Foucault menggagas tentang genealogi, dimana teks dipilah-pilah kemudian menjadi analisis yang lebih tajam tentang makna yang diekspresikan dan keinginan apa/tersembunyi dari teks naskah yang ditulis. Dalam musik misalnya dengan mengupas syair lagu yang diungkapkan oleh musikus-musikus yang sering mengkritisi kehidupan social  semisal Iwan Fals, Slangk.

11. Hermeneutik
            Hermeneutika merupakan ilmu untuk menafsirkan guna memahami sesuatu yang sifatnya abstrak dan gelap menjadi lebih terang mampu menjelaskan persoalan yang semula bersifat abstrak tersebut. F. Budi Hardiman menuliskan pengertian hermeneutik sebagai berikut:
“ Kata hermeneutik atau hermeneutika adalah pengindonesiaan dari kata Inggris hermeneutic. Kata terakhir ini berasal dari kata kerja Yunani hermeneuo yang artinya mengungkapkan pikiran-pikiran orang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti menerjemahkan dan juga bertindak sebagai penafsir. Ketiga pengertian ini sebenarnya mau mengungkapkan bahwa hermeneutic merupakan usaha untuk beralih dari sesuatu yang relative gelap ke sesuatu yang lebih terang. Dalam pengertian pertama hermeneuein dapat dipahami sebagai semacam peralihan dari sesuatu yang sifatnya abstrak dan gelap, yaitu pikiran-pikiran, ke dalam bentuk ungkapan yang jelas yaitu bentuk bahasa “ ( Hardiman, 2003: 37).
            Hermeneutik merupakan ilmu tentang penafsiran, suatu proses tindakan interpretasi guna memahami ke akar permasalahan, guna proses memahami tersebut seseorang atau peneliti harus berada “di sana”, di wilayah lokasi penelitian-nya.  Namun perlu mendapat perhatian bahwa kata memahami di dalam konteks ini, bukan dimaksudkan sebagai kata memahami dalam terminologi desain rancangan pembelajaran, sehingga kata kerja ini termasuk dalam kategori “tidak operasional”. Kata memahami di dalam konteks hermeneutic merupakan kata kerja yang jabarannya sangat luas sehingga mampu mengurai segala aspek permasalahan dan menjelaskan segala aspek yang masih kabur menjadi jelas.
12.Semiotika
            Semiotika merupakan ilmu tentang tanda, ilmu untuk mengungkapkan makna tanda-tanda dalam kehidupan masyarakat. Robert W. Preucel mengungkapkan arti semiotik sebagai berikut: 
“Semiotik merupakan lahan kajian, multi disipliner dalam cakupan dan dalam skop internasional, mengembangkan studi kecakapan manusia untuk memproduksi dan mengerti tanda-tanda. Apakah tanda itu? Tanda adalah semacam suatu ide, kata, gambar, bunyi, dan objek yang kompleks berimplikasi dalam: komunikasi. Semiotik meneliti sistem tanda dan mode representasi yang digunakan manusia untuk menyampaikan emosi, ide, dan pengalaman hidup ” (Preucel, 2010:5).
Tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat, sedangkan ilmu yang mengkaji tanda adalah Semiotika. Semiotika semula muncul dalam ilmu bahasa, namun Roland Barthes berpendapat bahwa tidak hanya digunakan untuk bidang bahasa saja:
          “Tujuan penelitian semiologi adalah untuk menyusun fungsi dari sistem penandaan selain bahasa dalam kesesuaian dengan tipikal proses dari beberapa aktivitas strukturalis, yang membuat suatu simulasi dari objek di bawah pengamatan” (Roland Barthes dalam Sunardi, 2004:37).
          Dalam musik misalnya penelitian tentang musik tertentu yang digunakan dalam masyarakat dan diterima sebagai musik yang luar biasa. Tanda-tanda musik tersebut serta makna-makna yang dalam di masyarakatnya inilah yang diungkapkan. Pilihan insert musik atau musik iklan, jingle; penelitiannya hingga mampu mengungkapkan antara bunyi musik yang dimunculkan, konteks penguatan dalam iklannya serta konteks media masa dan komunikasi dengan konsumen serta calon konsumen.

Proposal Penelitian dan Proses Penelitian Deskriptif Kualitatif  Secara Umum
(Model Pemaparan Lexy Moleong)
          Proses pembuatan proposal dan melakukan hingga menemukan hasil penelitian secara umum yang dilakukan peneliti kualitatif bisa mengikuti model deskriptif kualitatif-nya Moleong. Namun bila mempertajam pada aliran-aliran kualitatif yang lain maka terlebih dahulu memahami teori-teori yang telah dipaparkan terdahulu antara lain semiotika, strukturalisme, fenomenologi, etnografi, analisis wacana dan sebagainya. Proses penelitian yang mudah untuk penelitian kualitatif ini diambil dari Lexy J. Moleong  (1994: 86) tentang pembuatan rancangan penelitian kemudian dimodifikasi sedikit agar sekaligus menjadi proses dalam melakukan tahapan penelitian menjadi sebagai berikut ini:

***********
Proposal Kualitatif:
1.Latar Belakang Masalah dan Alasan Penelitian
2.Kajian Pustaka
3.Kesesuaian Paradigma dan Fokus/Masalah Penelitian
4.Pemilihan Lapangan penelitian/Setting Penelitian
5.Jadwal Penelitian dan  Alat Penelitian
6.Rancangan Pengumpulan Data (data tertulis, arsip, wawancara)
7.Metode Penelitian

**********
8.Rancangan Pengecekan Kebenaran Data (metode sirkular).
9.Interpretasi Hasil Kesimpulan Penelitian Lapangan.

Kesimpulan
            Penelitian kualitatif merupakan multi metode yang fokus, melibatkan interpretasi, pendekatan alamiah pada materi subjek. Ini berarti bahwa penelitian kualitatif studi segala sesuatu dalam setting alamiah mereka, berusaha mengerti dan menginterpretasi, fenomena dalam pengertian sesuai arti masyarakatnya. Penelitian kualitatif menekankan realitas alami konstruksi social, hubungan kedekatan antar peneliti dan yang diteliti dan suasana situasional yang menajamkan penelitian. Pencarian jawaban pertanyaan penelitian yang menekankan bagaimana pengalaman social dibentuk dan memberikan arti (Denzin dan Yvonne, 1994:4).
Proses dan tahapan melakukan penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan model penelitian deskriptif kualitatif-nya Lexy J Moleong seperti yang telah dipaparkan terdahulu.


         

Daftar Pustaka:

Barthes, Roland. (1981). Elemnts of Semiology. English Translation: Jonathan.
New York: Hill and Wang.
Denzin, Norman K., Yvonna S.L. 1994. Handbook of Qualitatif Research. California: SAGE
            Publications, Inc.
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: C.V. Pustaka Setia.
Foucault, Michel. (1973). The Archaeology of Knowledge. London: Tavistock
Publications.
Guba, Egon G. dan Yvona S.Lincoln.  1994 ” Competing Paradigms in Qualitative
            Research” dalam Norman K.Denzin dan Yvanna S. Lincoln:  Handbook of
            Qualitative Research. California: SAGE Publication.
Hardiman, F.Budi. (2003). Melampaui Positivisme dan Modernitas.Yogyakarta:
            Kanisius.
Jorgensen, Marianne W. dan Louise J.P. (2007). Analisis Wacana Teori & Metode.
Terjemahan: Imam Suyitno, Lilik S. dan Suwarna. Yogyakarta: Pustaka
 Pelajar.
Moleong, Lexy  J. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: P.T.Remaja Rosdakarya.
Preucel, Robert W. (2010). Arhaeological Semiotics. Malden: Wiley-Blackwell
Publishing Ltd.
Sunardi, ST. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik.
Sutiyono. 2011. Fenomenologi Seni Meneropong Fenomena Sosial dalam Kesenian.
            Yogyakarta: Insan Persada
             









Proposal Kualitatif:
1.Latar Belakang Masalah dan Alasan Penelitian ; Fokus Penelitian; Tujuan Pdnelitian.
3.Kesesuaian Paradigma dan Fokus/Masalah Penelitian
4.Pemilihan Lapangan penelitian/Setting Penelitian
5..Kajian Pustaka
6.Rancangan Pengumpulan Data (data tertulis, arsip, wawancara)
7.Jadwal Penelitian dan  Alat Penelitian
8.Metode Penelitian


Sabtu, 05 Oktober 2013

Menuju Pengembangan Paradigma Evaluasi Pendidikan



Oleh: Susilo Pradoko
Hasil uji tingkat internasional bidang penalaran yang diselenggarakan oleh Trends in International Mathemathics and Science Study (TIMSS) dan Programme for International Student Assesment (PISSA) siswa kita dikategorikan sebagai tak cukup bernalar. (Iwan Pranoto, Kompas 20 Feb.2013).Posisi capaian skor Indonesia berjarak 11 negara,  jauh di bawah Malaysia, tergolong terrendah hanya di atas Marocco dan Ghana (TIMSS and PIRLS Achievement 2011). Sementara tingkat tataran menghafal termasuk pada tataran tinggi,  ini menunjukkan bahwa model pembelajaran sekaligus sistem evaluasi pembelajarannya mengakibatkan murid menjadi ahli menghafal namun kurang  dalam  bernalar.
Sekalipun model pembelajaran di kelas dengan sistem bernalar, ujung proses dari pembelajarannya berupa evaluasi  model tes hafalan,  maka proses pembelajaran tadi menjadi kurang berarti, sirna dengan evaluasi akhir. Sebagai contoh, seorang guru A yang dipercaya mengajar dalam kelas selama satu semester namun soal-soal evaluasi akhir semester dibuat oleh Guru B , maka akan terjadi distorsi di sana-sini dari apa yang diberikan oleh A termasuk segala kelebihan dan kurangannya,  dalam hal ini murid yang dirugikan sekalipun keduanya menggunakan garis besar silabus-kurikulum yang sama.   Karenanya para murid  lebih senang mempersiapkan dengan mengantisipasi membahas model soal-soal tes (yang dibuat oleh guru B) demikian halnya dengan model soal-soal ujian yang dibuat pada tingkat nasional, murid dan guru sama-sama mengantisipasi dengan melakukan latihan-latihan soal-jawab ujian nasional.  Model tes hafalan ini mewujud  pada soal-soal yang sifatnya pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan. Jawabannya sebetulnya sudah tersedia, siswa tinggal memilih dari jawaban yang tersedia tersebut dengan menyilang, mencentang, ataupun menghitamkan pada lembar jawaban.
Model tes pilihan ganda yang diterapkan guna mengukur penentuan lulus tidaknya siswa dalam ujian nasional menjadikan alat ukur tersebut menjadi tujuan primadona bagi siswa dan sekolahnya. Melalui model-model soal-soal pilihan ganda tersebut para siswa didrill, dilatih kurang lebih sebulan menjelang mereka ujian, untuk menghafal model soal-soal serta menghitamkan jawaban yang sesuai. Hal inilah yang dilakukan beberapa sekolah menjelang ujian nasional bahkan waktu pembelajaran reguler diberhentikan diganti dengan pembelajaran model latihan soal-soal  tahun sebelumnya atau yang mirip dengan soal-soal pilihan ganda ujian nasional. Mentalitas  ini pulalah yang membuat bimbingan belajar SD,SMP dan SMA sangat laku. Penulis pernah berasumsi bahwa anak-anak SMA tidak perlu sekolah selama 3 tahun, mereka cukup belajar selama 1 tahun melatih model soal-soal ujian nasional beserta kisi-kisinya di bimbingan belajar,  maka mereka akan lulus ujian nasional tingkat SMA. Jika hal ini benar,  maka implikasinya sangat  luas dalam berbagai aspek  pembelajaran di sekolah.
Model soal-soal pilihan ganda ini di satu sisi memang mengandung beberapa keuntungan antara lain: dalam waktu yang singkat mampu memberikan soal yang banyak, cakupan materinya juga bisa lebih banyak, memudahkan untuk mengkoreksi, penghematan waktu koreksi, mekanisasi melalui lembar jawaban dan pemindaian dengan komputerisasi sehingga mampu mengoreksi secara missal dalam waktu yang singkat.  Namun di sisi lain,  unsur penalaran siswa kurang mewujud, proses pola pikir individu tidak terdeteksi, hak individu untuk menguraikan proses berfikir, alasan serta gagasannya selama memperoleh ilmu sejalan dengan capaian paradigmanya tidak dapat terungkap, mengutip Iwan Pranoto: “Satu perusak budaya bernalar paling efektif adalah ujian nasional” (kompas 23 Februari 2013, hal 7). Jawaban soal dalam ujian nasional bisa dilakukan melalui gambling,” menghitung kancing baju”   anak di bawah rata-rata bisa jadi memiliki skor yang tinggi, apa lagi yang mendapat  jawaban soal ujian  tinggal menghitamkan huruf-hurufnya.
Tampaknya model tes ujian pilihan ganda sejalan dengan pemikiran positivisme dimana cirri-ciri pemikiran positivism adalah: metode ilmu pengetahuan alam diterima sebagai fundasi pengetahuan yang valid, Hukum-hukum alam sama dengan hukum-hukum dalam social, universal sain,  hukum berlaku umum,  manusia sebagai obyek observasi empiris melalui rumus-rumus alam yang berlaku universal serta penggunaan metode empiris kuantitatif mewujud berupa penghitungan angka-angka. Penggunaan hipotesa dan menerapkan obyektifikasi terhadap dunia sosial, manusia.
Sebagaimana dikemukakan Schleiermarcher, Dilthey, Gadamer maupun Habermas, jika ilmu pengetahuan alam (naturwissenschaften)  berhubungan dengan fonomena alam yang seragam, fenomena yang statis dan terkontrol maka metode empiris kuantitatif dianggap tepat diterapkan untuk menjelaskan fenomena alam dan menemukan hukum-hukum alam. Sementara pada ilmu pengetahuan yang termasuk pada Geisteswissenschaften,   maksudnya ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia (humaniora), fenomena manusia dipandang memiliki keunikan, kesadaran, makna dan tujuan hidup, tidak statis, memiliki kebebasan memilih untuk bertindak, sulit dikontrol dan mudah dipengaruhi lingkungan social budaya. (Metodologi Postmodernis. Akhyar Yusuf Lubis, 2004: 56)
Dalam pandangan aliran pemikiran Postmodern terjadi hubungan dialogis antar subyek dan obyek, the other, liyan, orang lain memperoleh pengakuan, penghargaan maka observasi memungkinkan partisipan mengutarakan pemikiran dan tindakkannya secara alamiah sebab merupakan keunikan dari Geisteswissenschaften tersebut dengan segala aspeknya. Tampaknya dasar pemikiran postmodern inilah yang juga dipakai di Finlandia dimana guru bebas merancang pembelajaran serta sekaligus model evaluasinya, bahkan di sana tidak ada ujian nasional sebagai penentuan kelulusan tingkat dasar dan menengah, namun ternyata justru menduduki rangking paling atas capaian skor  TIMSS 2011 tingkat internasional.
Sejalan dengan paradigma pemikiran postmodern,  anak didik kita adalah pribadi-pribadi yang juga memiliki pemikiran-pemikiran dari hasil proses pendidikan baik dalam lingkungan keluarga maupun terlebih lingkungan sekolah , mereka perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan proses bernalarnya melalui ungkapan tertulis sekaligus penghargaan terhadap pribadi siswa. Sehubungan dengan itu maka model soal-soal tes ujian akhir terlebih ujian nasional bukanlah melulu model pilihan ganda yang sangat mekanik, namun dibuat juga model-model soal uraian sehingga mampu melatih siswa untuk bernalar dan mengungkapkan pendapat berdasarkan ilmu yang telah diterimanya melalui tulisan,  syukur bila memungkinkan melalui lisan, baik itu ilmu-ilmu sain maupun ilmu-ilmu sosial. Di sisi lain memang diakui terdapat kesulitan teknis untuk pengkoreksian model soal-soal uraian khususnya bila diterapkan dalam ujian nasional, namun kiranya dapat didiskusikan dan ditemukan solusinya malalui para ahli pendidikan.
                                                                                    Jakarta, 21 April 2013

Susilo Pradoko
Dosen UNY, studi S3 FIB UI.

Kamis, 23 Mei 2013

Seandainya Aku Seorang Guru



Seandainya aku seorang guru, aku menangis.
Katanya aku bebas merancang kurikulum sekolah,  tetapi rancangan kurikulumku tak berlaku
Katanya aku bebas menguji,  tetapi aku tidak pernah membuat soal
Kapan aku seperti arsitek yang bangga  rancangan dan bangunannya  ?
Katanya aku bebas mengembangkan materi,  tetapi waktuku di kelas tidak cukup
Katanya materiku satu semester,  tetapi hanya 2/3 semester
Kapan aku seperti pilot, yang bangga penguasaan teknologi dan  kemampuan jam terbangnya  ?
Katanya aku bebas memilih metode, tetapi  metodeku ternyata hanya satu
Katanya aku bebas memilih alat pembelajaran, tetapi alatnya tidak ada
Kapan aku seperti dokter bedah yang bangga dengan terapan teknologi dan kesehatan pasiennya ?
Katanya aku melatih bernalar,  tetapi  untuk latihan hafalanl
Katanya aku dilatih professional,  tetapi aku cuma mengerti bahwa aku tidak professional
Kapan aku seperti  militer, yang bangga  strategi dan kemampuan bela Negara nya  ?
Katanya aku sudah professional,  tetapi jam mengajarku kurang
Katanya muridku merasa senang denganku, tetapi aku tidak menerima profesionalku
Kapan aku seperti dokter, yang bangga diagnosa dan kesembuhan pasiennya ?
Katanya muridku dites kecakapan berfikir , tetapi hasilnya mengecewakanku
Katanya aku guru pembelajaran yang memerdekakan,  tetapi   bebanku membuat lena  berfikir  itu
Kapan aku seperti  kyoshi  Jepang, yang bangga kemajuan negara berkat bunga sakuranya ?

Tolong …….,   Tolonglah aku, entah bagaimana caranya !
Setidaknya,  tolong aku dinyanyikan  lagu,  Mashiro Ki Fujino  untuk menghibur  hatiku


Beji, 17/2-2013
Susilo Pradoko
Pengkaji Seni, Dosen UNY